Tradingan.com - Setelah aku tunggu cukup lama sekitar 20 menit, Henny keluar dari balik pintu kamarnya dengan “daster tipis tembus pandang” warna pink.Daster yang menurut aku hanya layak digunakan di kamar tidur bersama suami tercinta. Apalagi dasternya model tali kecil di pundak, dengan potongan di dadanya sangat rendah, sehingga jelas nampak olehku dadanya yang putih mulus dengan belahan bukit kembarnya yang aduhai.. seperti buah sedang ranum-ranumnya. Gila benar Henny ini, pikirku. Karena sinar lampu kamarnya yang sangat terang sedangkan diruang tamu cukup redup, maka di balik dasternya terlihat belahan pahanya yang mulus sampai ke pangkalnya. Di balik daster tipisnya, terlihat BH dan CD mininya berwarna “merah anggur”, kombinasi warna yang sangat serasi dan nampaknya Henny ini sukanya warna-warna pastel dan pintar mengkombinasikan warna. Pikirku, di ranjangpun pasti suaminya puas, pasti Henny juga pintar mengkombinasikan gerakan-gerakan ataupun variasi sex yang bikin pria melayang-layang bagaikan di langit ke tujuh.
“Robby sayang.., koq ngelamun terus to, ngga rela yaa dinner disini? Atau ada janji ama WIL mu? he.. he.., bercanda lho Rob..”, sapanya bikin aku tersadar dari lamunan sambil dia mendekat padaku.
“Ngawur aja WIL, emangnya aku ada tampang nge-WIL apa? Ngapain mikirin WIL yang jauh, wong ada bidadari disini..”, sahutku.
Aku pikir pertanyaan tentang WIl itu pasti cuman pancingan aja dari Henny dan sudah kepalang basah aku buat Henny makin tersanjung aja dengan panggilan bidadari. Aku ingin tahu reaksi selanjutnya.
“Kamu anggap aku bidadari Rob? Ngga salah tuh? Apa pantas sih Rob?”, pancingnya lagi makin mendekat, dekat sekali sampai tercium wanginya.
Aku pikir, kena tuh pancinganku. Aku paham benar hati seorang istri/ceweq, kalau udah dimanjain gitu pasti langsung terkapar klepek-klepek, seperti ayam baru disembelih.
“Iya bidadariku.., aku tadi bukan ngelamun tapi kagum ama penampilanmu Hen. Aku bayangkan betapa bahagianya suamimu punya istri seanggun gini. siapa ngga akan kerasan di rumah terus? Seandainya aku punya istri kayak Henny, wah.. aku betah dirumah..”, aku sanjung lagi dia.
“Itu menurut kamu.., tapi Har dingin banget koq ama aku. Lagian, apa hanya suami aja yang harus dibahagiakan istrinya? Apa istri juga ngga patut dibahagiakan Rob..?”, protesnya dengan manja padaku.
Wah.. mati aku, makin terbuka aja nampaknya nikh. Kena juga pancinganku.
“Wouw, salah besar kalau suami harus dibahagiakan “tanpa” istrinya ikut bahagia. Itu pandangan jaman Siti Nurbaya Hen..!”, sanggahku.
“Terus, gimana pendapatmu tentang posisi seorang istri Rob?”, tanyanya.
“Aku sangat tidak setuju dengan type cowoq begitu. Di mataku, ceweq itu ciptaan Tuhan yang sempurna, patut untuk disayangi, dihargai, dimanjakan dan untuk itu kita nikah khan karena saling menyayangi, Hen..!”.
“Apa suamimu dingin toh Hen..? Kasihan dong kamu Hen..?”, tambahku.
Artikel Terkait
Di luar dugaanku, dia tidak menjawab pertanyaanku tapi malah merebahkan kepalanya di pundakku, dan bajuku tahu-tahu sudah basah oleh airmatanya.
“Rob, hanya kamu pria satu-satunya di luar suamiku yang tahu hal ini. Aku percaya kamu, aku tahu kamu baik dan bisa menyenangkan hatiku, makanya aku berani buka penderitaan bathinku selama ini”, sahutnya pelan.
“Ak.. ak.. aku lama memendam derita ini Rob! Istri mana yang kuat dengan situasi, Rob..!”, tambahnya sambil mulai sesenggukkan. Wajib baca!

0 Response to "Cerita Anal Sex Pagar Makan Tanaman 2"
Posting Komentar